7 Poin Udayana One Health Collaborating Centre Dalam Merespon Isu Konsumsi Daging Anjing Di Bali

Hello Bro n Sis
Berlokasi di Sanur Paradise Plaza Pusat Kajian One Health Universitas Udayana bersama Animals International mengundang beberapa Instansi pemerintah budayawan, penegak hukum, para dokter hingga komunitas pecinta anjing untuk membahas isu ramainya jual beli dan konsumsi daging anjing.

Dari diskusi yang di pelopori oleh Udayana One Health Collaborating Centre ini memang terungkap jika Bali sudah terbebas dari dari rabies hingga bulan Juni 2017 ini, tetapi kita harus tetap waspada jangan terbuai dengan bahwa Bali sudah terbebas dari Rabies. Di lain pihak mengkonsumsi daging Anjing adalah salah satu cara menyebarnya penyakit Zoonosis.

One-Health-Collaborating-Centre-2017

Maraknya kabar konsumsi dan jual beli daging anjing di Bali hingga tersebar ke mancanegara haruslah segera kita tindak lanjuti agar tidak mengancam citra pariwisata Bali. 
Dr Nyoman Sri Budayanti Selaku Coordinator One Health Collaborating Centre (OHCC) mengatakan:
"Untuk merespon isu yang beredar tentang konsumsi daging atau sate anjing di Bali. di Mana itu berdampak pada pariwisata di Bali. Kami OHCC Universitas Udayana mencari opini dari semua stakeholder,"

Diskusi berlangsung sekitar 3 - 4 jam, jalannya diskusi sangat alot namun berkat pembawaan moderator yang sangat enerjik dan cerdas dari dr. I Made Subagiarta,  diskusi tidak sampai terjadi debat kusir. 7 poin berhasil di rumuskan, akan di sampaikan ke pada pihak terkait dalam hal ini pemerintah Provinsi Bali.

7 Poin Hasil Diskusi One Health Forum - Human and Animal Welfare "Responding to Dog Meat Trade" oleh One Health Collaborating Center Universitas Udayana ialah:
  1. Dalam filosofi Tri Hita Karana, seyogyanya manusia diharapkan mampu membina hubungan yang baik antara lingkungan dan isinya termasuk anjing.
  2. Tindakan mengonsumsi daging anjing bukan merupakan kebiasaan dan kebudayaan masyarakat Bali karena bertentangan dengan budaya Bali yang percaya Anjing memiliki peranan penting dalam kehidupan.
  3. Daging anjing tidak termasuk kategori pangan, karena anjing bukan merupakan produk peternakan atau kehutanan.
  4. Praktik perdagangan daging anjing berpotensi penyebaran penyakit zoonosis terutama rabies.
  5. Penegakan hukum yang jelas dan tegas mencegah penjualan daging anjing.
  6. Dibutuhkan edukasi yang berkelanjutan.
  7. Koordinasi dan kolaborasi antar lembaga terkait dalam menangani isu penjualan daging anjing di Bali.


Kedepan semoga tidak terjadi lagi kasus yang merusak citra pariwisata Bali, mungkin salah satu solusi sesuai ungkapan rekan blogger yang juga sebagai salah satu member dari omunitas stop buang anjing adalah benar, dimana kita harus menstop membuang anjing, dengan men stop membuang anjing maka para penjual dging anjing akan kesulitan mencari anjing untuk di sembelih untuk di jual dagingnya.

Jika kemudian para penjual itu mencari anjing dengan cara mencuri di rumah penduduk maka si pencuri bisa di proses secara hukum.

"Secara Filosofi Anjing merupakan hewan kesayangan, sebagai penjaga rumah, alarm untuk manusia atau tuannya, sehingga tidak mungkin masyarakat Hindu Bali mengkonsumsi daging anjing" Ungkap drh I KD Nata Kesuma selaku Kabid Kesehatan Veteriner Dinas  PKH Provinsi Bali

0 Response to "7 Poin Udayana One Health Collaborating Centre Dalam Merespon Isu Konsumsi Daging Anjing Di Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel